Dia sang penghentak kaki yang keras nan lembut. Belum dia berbicara,
untuk memulai sebuah obrolan yang nyaman dan asyik ,untuk sampai waktu
perbincangan materi mengenai kehidupan yang bijakpun, telah habis tak begitu
jelas bagiku. Namun dia dengan bersahajahnya membuka dan menutup sebuah awalan
yang begitu renyah, sehingga membuat orang yang menemuinya terbawa masuk ke alam
fantasi yang begitu komplit, untuk di rasakan dalam sebuah titik akhir
pencerahan jiwa yang lebih untuk tersenyum.
Tetapi begitu banyak pertanda yang di bincangkan mengenai sesosok
perempuan ini, mengenai kecantikkanya atau apapun yang dapat nilai dari
dirinya, dan entah apa yang harus di nilai. Namun tak dapat aku memanggilnya
bidadari yang di ingin-inginkan oleh seorang lelaki yang ada di luar sana.
Banyak sekali sebuah perbedaan dan penilaian, sebab bukan memandang ataupun
menilai dari hal yang terlihat saja.
Menurut pemikiranku sendiri, belum dapat di sandingkan dengan
seorang bidadari. Perlu memahami sifatnya yang banyak mengandung berbagai
pertanda, apakah dia memang orangnya dingin, sulit untuk di dekati, ataupun
segala hal-hal yang negative di dalam benakku, kacaukan saja pemikiran ini. Dia
ramah dan memang begitu orangnya, memang banyak yang mengejarnya, itu aku tau.
Siapa yang tidak mau mengejar perempuan seperti itu. Semua lelaki akan memiliki
hal seperti itu, mengejar perempuan yang mempunyai setengah dari kesempurnaan
yang tidak bakal utuh dalam diri manusia.
Saat pertama kali melihat dalam diamnya, pertanda yang membuat
pikiran selalu bertanya-tanya mengenai berbagai hal dalam Diamnya tersebut.
Pandangan matanyapun seolah-olah tertanam erat di dalam hatiku sekarang, dan selalu
aku untuk kucoba mencabuti terus menerus
di dalam hatiku ini. Aku mencari akarnya untuk aku cabuti secara perlahan,
namun mulai tumbuh lagi secara perlahan-lahan dan menyebar lebih banyak
daripada sebelumnya. Mata itu terus berlenggak-lenggok dengan mesra dan seiring
hatiku terus berirama kelu, sesaat terus memikirkan dan merasakan itu.
Tidak hanya matanya saja, senyum itu adalah segala pertanda yang
memunculkan dosa dan pahala yang teramat membekas bagiku. dari senyumnya itu
membuat otak ini terkadang berputar-putar di satu titik mengenai dia dan siapa
dirinya. Baikkah atau hanya menjaga martabat budi pekerti yang baik mengenai
dirinya sendiri, suatu hal yang membuat aku berpikiran yang tidak-tidak “bahwa
dia perempuan yang tidak bisa di dekati sama sekali, harus ada sesuatu hal yang
beda dan daya magnet yang membuat dia tertarik”.
Perihal itulah yang semakin membuat aku beranggapan lain. Namun
memang di sadari ada sesuatu perasaan yang berbeda, bukan karna melihat kondisi
jasmani dan rohaninya, buka itu yang aku maksud. Tetapi mengenai sebuah
fantasi, yang ada sebuah keterikatan yang tidak bisa di jelaskan lewat sebuah
pujian dan kekaguman mengenai dirinya. Sehingga semuanya itu tidak bisa di
nilai, masuknya saja tanpa ku ketahui, bahkan anginpun masih kalah soal
menyelinap ke sela-sela ruang di dalam hatiku ini. Semua hal ini mengenai
sesosok yang satu itu, tetapi banyak
aura, bayangan, dan mengisi di sekitar ruangan yang seakan-akan ada
banyak dia mengisi di setiap ruang kosong tersebut.
Berpura-pura lugu, lucu dan polos. Itulah sikap yang tertampak
dari keseharian yang aku tunjukkan, dalam empat hari itu hanya beberapa kali
aku beraksi dengan sikap seperti itu. Dan memang aku yakin, sifat yang aku
keluarkan tersebut sebuah ketulusan dengan keadaan tersebut.
Tidak ada pikiran satupun, untuk mencari satu perempuanpun di
dalam benakku. Sebab aku tidak berpikir banyak mengenai perempuan, mencari sana
atau menguntit sana “hahaha” tidak pernah. Karna ada perbandingan setengah
persen mengenai kenikmatan dan malapetaka bagiku, sebab itulah bijak-bijaknya
manusia merealisasikannya. Tetapi, ada-ada saja yang membuat lebih berpikir
lagi, dan tertarik “ sang penyentuh bumi yang lembut” membuat jiwaku bergetar
pelan tapi pasti. Entahlah, kurasa aku mulai goyah lagi dengan pendirianku dan
terasa di ombang-ambingkan ombak di
tengah lautan, bahkan bisa juga seperti berdiri seorang diri di padang pasir
yang panas dan di tawari air untuk melepas dahaga, entahlah.
“Tersentak aku di persimpangan
jalan buntu, mulai saat itu banyak sekali orang yang mendekati aku dengan
pakaian yah mewah, lusuh, standar. Mereka terdiam, lalu mengelilingiku dengan
senyuman pula. Apa-apaan ini? Semuanya perempuan tidak ada satu lelakipun, saat
itu pula entah darimana suara muncul, merekapun menghentak-hentakkan kakinya
lalu menyatu dengan irama tersebut. Aku jatuh pingsan di dua titik antara
kemewahan dan kelusuhan, perempuan itu lalu terdiam memberi bahasa yang ku tak
mengerti lewat hentakkan kakinya itu. Mereka berdua bersiteru dengan hebatnya,
tetapi dalam remangku wanita itu berwajah sama”. Itu di dalam mimpiku yang penuh
banyak pertanyaan mengenai hal ini.
perempuan
bertukar kaki
menginjak-injak
sehalus budi
kian
bertukar tempat
melaju
pasti, seiring senyuman yang terus membagi
jiwa-jiwa
berhenti berirama
menukarkan
singgsana awan yang tak pasti
tetap
saja, kau menari dan menari
trotoar-trotoar
bising
menyelinap
seperti not-not penelisik
merangkul
tangan, sekedar berkeluh kesah
keceriaan
demi keceriaan kau sampaikan
seperti
hujan yang berubah menjadi rintik
pesan
yang berlenggak-lenggok
mengembang
kempiskan mata
menduga-menduga,
seperti psikolog
menyelinap
di senja antah berantah
sehingga
menyeruput malu dan ikut terbenam
lalu
menari kecil dan berlari, kian lalu
semuanya
tidak berirama lagi, senyumannya hilang di lalap habis oleh ruang dan waktu. Di
temani banyak senyuman perempuan-perempuan lain. Namun, tidak membekas seperti
sebelumnya. Berjaga jarak yang semakin aku tidak mengerti. Jauh untuk berlayar,
namun dekat untuk meneropong dari kejauhan. Perempuan yang aneh bagiku, tetapi
bidadari-bidadari mematung di hadapkanku. Aku mengerti ia menyimpan sesuatu,
namun entah apa yang ia simpan dalam
dirinya. Aku tidak mau menjadi kumbang begitu sok tau, apalagi kumbang yang bercitra buruk.
“femme,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar