Rabu, 19 Desember 2012

Permaisuri Penari

-->

Dia sang penghentak kaki yang keras nan lembut. Belum dia berbicara, untuk memulai sebuah obrolan yang nyaman dan asyik ,untuk sampai waktu perbincangan materi mengenai kehidupan yang bijakpun, telah habis tak begitu jelas bagiku. Namun dia dengan bersahajahnya membuka dan menutup sebuah awalan yang begitu renyah, sehingga membuat orang yang menemuinya terbawa masuk ke alam fantasi yang begitu komplit, untuk di rasakan dalam sebuah titik akhir pencerahan jiwa yang lebih untuk tersenyum.
Tetapi begitu banyak pertanda yang di bincangkan mengenai sesosok perempuan ini, mengenai kecantikkanya atau apapun yang dapat nilai dari dirinya, dan entah apa yang harus di nilai. Namun tak dapat aku memanggilnya bidadari yang di ingin-inginkan oleh seorang lelaki yang ada di luar sana. Banyak sekali sebuah perbedaan dan penilaian, sebab bukan memandang ataupun menilai dari hal yang terlihat saja.
Menurut pemikiranku sendiri, belum dapat di sandingkan dengan seorang bidadari. Perlu memahami sifatnya yang banyak mengandung berbagai pertanda, apakah dia memang orangnya dingin, sulit untuk di dekati, ataupun segala hal-hal yang negative di dalam benakku, kacaukan saja pemikiran ini. Dia ramah dan memang begitu orangnya, memang banyak yang mengejarnya, itu aku tau. Siapa yang tidak mau mengejar perempuan seperti itu. Semua lelaki akan memiliki hal seperti itu, mengejar perempuan yang mempunyai setengah dari kesempurnaan yang tidak bakal utuh dalam diri manusia.

Saat pertama kali melihat dalam diamnya, pertanda yang membuat pikiran selalu bertanya-tanya mengenai berbagai hal dalam Diamnya tersebut. Pandangan matanyapun seolah-olah tertanam erat di dalam hatiku sekarang, dan selalu aku untuk kucoba mencabuti  terus menerus di dalam hatiku ini. Aku mencari akarnya untuk aku cabuti secara perlahan, namun mulai tumbuh lagi secara perlahan-lahan dan menyebar lebih banyak daripada sebelumnya. Mata itu terus berlenggak-lenggok dengan mesra dan seiring hatiku terus berirama kelu, sesaat terus memikirkan dan merasakan itu.

Tidak hanya matanya saja, senyum itu adalah segala pertanda yang memunculkan dosa dan pahala yang teramat membekas bagiku. dari senyumnya itu membuat otak ini terkadang berputar-putar di satu titik mengenai dia dan siapa dirinya. Baikkah atau hanya menjaga martabat budi pekerti yang baik mengenai dirinya sendiri, suatu hal yang membuat aku berpikiran yang tidak-tidak “bahwa dia perempuan yang tidak bisa di dekati sama sekali, harus ada sesuatu hal yang beda dan daya magnet yang membuat dia tertarik”.  
Perihal itulah yang semakin membuat aku beranggapan lain. Namun memang di sadari ada sesuatu perasaan yang berbeda, bukan karna melihat kondisi jasmani dan rohaninya, buka itu yang aku maksud. Tetapi mengenai sebuah fantasi, yang ada sebuah keterikatan yang tidak bisa di jelaskan lewat sebuah pujian dan kekaguman mengenai dirinya. Sehingga semuanya itu tidak bisa di nilai, masuknya saja tanpa ku ketahui, bahkan anginpun masih kalah soal menyelinap ke sela-sela ruang di dalam hatiku ini. Semua hal ini mengenai sesosok yang satu itu, tetapi banyak  aura, bayangan, dan mengisi di sekitar ruangan yang seakan-akan ada banyak dia mengisi di setiap ruang kosong tersebut.
Berpura-pura lugu, lucu dan polos. Itulah sikap yang tertampak dari keseharian yang aku tunjukkan, dalam empat hari itu hanya beberapa kali aku beraksi dengan sikap seperti itu. Dan memang aku yakin, sifat yang aku keluarkan tersebut sebuah ketulusan dengan keadaan tersebut.
Tidak ada pikiran satupun, untuk mencari satu perempuanpun di dalam benakku. Sebab aku tidak berpikir banyak mengenai perempuan, mencari sana atau menguntit sana “hahaha” tidak pernah. Karna ada perbandingan setengah persen mengenai kenikmatan dan malapetaka bagiku, sebab itulah bijak-bijaknya manusia merealisasikannya. Tetapi, ada-ada saja yang membuat lebih berpikir lagi, dan tertarik “ sang penyentuh bumi yang lembut” membuat jiwaku bergetar pelan tapi pasti. Entahlah, kurasa aku mulai goyah lagi dengan pendirianku dan terasa di ombang-ambingkan ombak  di tengah lautan, bahkan bisa juga seperti berdiri seorang diri di padang pasir yang panas dan di tawari air untuk melepas dahaga, entahlah.
“Tersentak aku di persimpangan jalan buntu, mulai saat itu banyak sekali orang yang mendekati aku dengan pakaian yah mewah, lusuh, standar. Mereka terdiam, lalu mengelilingiku dengan senyuman pula. Apa-apaan ini? Semuanya perempuan tidak ada satu lelakipun, saat itu pula entah darimana suara muncul, merekapun menghentak-hentakkan kakinya lalu menyatu dengan irama tersebut. Aku jatuh pingsan di dua titik antara kemewahan dan kelusuhan, perempuan itu lalu terdiam memberi bahasa yang ku tak mengerti lewat hentakkan kakinya itu. Mereka berdua bersiteru dengan hebatnya, tetapi dalam remangku wanita itu berwajah sama”. Itu di dalam mimpiku yang penuh banyak pertanyaan mengenai hal ini.



perempuan bertukar kaki
menginjak-injak sehalus budi

kian bertukar tempat
melaju pasti, seiring senyuman yang terus membagi

jiwa-jiwa berhenti berirama
menukarkan singgsana awan yang tak pasti
tetap saja, kau menari dan menari

trotoar-trotoar bising
menyelinap seperti not-not penelisik
merangkul tangan, sekedar berkeluh kesah

keceriaan demi keceriaan kau sampaikan
seperti hujan yang berubah menjadi rintik
pesan yang berlenggak-lenggok
mengembang kempiskan mata
menduga-menduga, seperti psikolog

menyelinap di senja antah berantah
sehingga menyeruput malu dan ikut terbenam
lalu menari kecil dan berlari, kian lalu

semuanya tidak berirama lagi, senyumannya hilang di lalap habis oleh ruang dan waktu. Di temani banyak senyuman perempuan-perempuan lain. Namun, tidak membekas seperti sebelumnya. Berjaga jarak yang semakin aku tidak mengerti. Jauh untuk berlayar, namun dekat untuk meneropong dari kejauhan.  Perempuan yang aneh bagiku, tetapi bidadari-bidadari mematung di hadapkanku. Aku mengerti ia menyimpan sesuatu, namun  entah apa yang ia simpan dalam dirinya. Aku tidak mau menjadi kumbang begitu sok tau, apalagi kumbang yang bercitra buruk.
“femme,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar