Aku pernah bertemu diriku sendiri, dibagian antah berantah
kulit ari. Suatu ketika aku bertemu dengan diriku sendiri diatas sungai yang
panjang sekali. Sungai itu bernama sungan ogan. Sungai ogan itu adalah sungai
yang sangat besar sekali. Kulit ariku mengajak aku utnuk berenang di sungai
tersebut, jelas aku tak mau. Aku tidak bisa berenang, aku tdak bisa
mengayun-ayunkan tanganku untuk bisa mengambang. Tetapi sama sekali aku tidak
mengerti kulit ariku tinggal dimana dan mendiami dunia yang mana.
Sebenarnya Aku masih bingung, sesekali Aku bertemu dengan
perempuan yang cantik, lekukkan tubuh yang bisa membuat Aku bisa berdiri
berkali-kali. Libidoku semakin meninggi rupanya. Aku sudah berhenti, berhenti
dari keangkaramurkaan diriku terhadap tubuhku yang dibilang mukjizat, namun
bisa saja se’enaknya dibilang oleh orang-orangan mereka. Mulut mereka dan sosok
kita perlu berjaga-jaga di pintu percaloan surga sepertinya.
Kulit ariku yang disimpan oleh ibuku baik-baik. kini
kulitnya tersimpan dengan baik, namun makhluk halusnya selalu mengikuti.
Rupanya seperti diriku. Rupanya lebih mirip dari kembaranku yang pertama,
kedua, dan seterusnya. Emakku bilang begitu, harus ada doa biar saudara ariku
tidak mengganggu. Kulit ariku selalu menemaniku. Sang Gusti pasti melihatku
lebih dari ini. sebenarnya manusia itu tercipta dua, satu di dunia yang kasar
dan satu di dunia yang halus. Itu sepemahanku yang baru. Emakku sempat bilang,
rukun-rukunlah terhadap dirimu yang satu lagi. Dibagian mana diriku satu lagi,
kulit ariku atau sifatku yang tersimpan secara apik. Semestinya selalu saja
berdoa.
Aku sebenarnya tidak mau berceloteh banyak, namun mereka
memintaku untuk berceloteh banyak. Aku tidak pernah tahu bahwa bumi ini bisa
bersedih. Menjerit saat kita langkahkan kaki pertama kita sampai berkali-kali. Sepertinya
dengan beberapa kali langkah kita membuat semuanya menjadi lebih kasar. Hingga
menciptakan banyak simponi jeritan bumi, entahlah. Aku belum sempat mendengar
bumi menangis, namun bumi yang marah Aku sempat mendengar dan melihat. Tsunami
di aceh, letusan gunung merapi, dan gempa bumi di Yogyakarta. Tersenyum saja
tidak apalagi tertawa. Bumi ini sebenarnya mau minta apa sama kita. Aku dan
kita sebenarnya meminta apa sama bumi, sepertinya kita sudah sangat terpenuhi
oleh kebaikkan bumi. Tetapi kenapa mereka menjerit saat kita melangkahkan kaki
untuk menyentuhnya. Aku semakin tidak berani.
Aku berbicara mengenai politik. Dipikiranku hanya satu
mengenai politik, yaitu bahwa politik itu baik, sangat baik. penyebab
kesalahannya berada di posisi segumpal daging yang begitu banyak lemaknya,
sehingga orang-orang yang berjalan di jalan politik salah memilih jalan. Mereka
tidak menggunakan intuisi hati sepertinya.
Aku dan keakuanku yang lainnya. Sombong saja sepertinya
saat aku berkata “ aku membuatkan makanan untuk saudaraku yang sedang sakit,
akhirnya Dia sembuh”. Sepertinya tehnik keakuanku masih memikirkan pengakuan
diri yang berlebihan. Pernah Aku bertemu dengan doraemon, makhluk berwarna
biru. Makhluk itu selalu datang disetiap pagiku, menghasutiku perlahan-lahan
hingga aku menjadi manusia penghayal yang malas membuat. Aku selalu
meminta-minta untuk apa saja yang aku inginkan. Hasutan makhluk itu berhasil
rupanya. Aku jadi manusia yang malas menghasilkan dengan usaha, namun menjadi
manusia yang selalu meminta hasil dari segala upaya dan usaha. Barang jadi yang
aku mau. Aku menjadi masyarakat konsumsi tingkat pertama. Manusia yang
disebabkan jalur imajiner yang bercabang, namun banyak kebuntuan. Hal yang membuat
suatu kelayakkan dengan berimajinasi bukan, imajinasilah tanpa selalu meminta
barang jadi.
Aku tidak mau menjadi Aku yang lupa dengan diri sendiri
ini. biarlah apapun yang Aku perbuat tidak akan aku beberkan kebaikkanku lewat
kata-kata, biarlah mulut orang yang berkata. Aku dengan kebaikkanku sepertinya
cukup dengan tindakkan-tindakkan yang masih terlihat samar bagiku. menolonglah
tanpa diminta, sepertinya lebih bijaksana daripada mengobralkan diri untuk
membantu.
Aku tidak selalu bisa melihat kulit ariku. Sepertinya aku
tidak akan bisa melihat kulit ariku. Kulit ariku sekarang serupa seperti Aku.
Orang bisa melihat kulit ariku, tapi itu nanti di saat Aku telah berada dalam
keridhoan bumi yang di ridhoi Gusti terlebih dahulu. Satu hal yang Aku tidak sadar,
apakah aku selalu berdoa saat mengeluarkan langkah kakiku pertama kali. waktuku
tidak memberitahu mengenai perihal itu. tentang jeritan bumi atas injakkan
kakiku, kita dan mereka. Belajarlah perhatian terhadap dirimu sendiri dan alam
ini, mungkin mereka bisa berbisik disaat tidurmu.
Selamat tinggal aku yang bisa saja. selamat tinggal kita,
pergilah berbelanja cabe merah pagi ini. selamat tinggal mereka yang sedang
berkerumunan menyatukan mulut untuk meraih kedudukkan politik itu tadi. Selamat
tinggal kaminya orang-orang suku, kalian memang sahabat alam. Masih saja bumi
menjerit walaupun kalian begitu bersahabat, itu yang ada di paradigmaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar