Kamis, 21 Februari 2013

AKU YANG BISA SAJA




Aku pernah bertemu diriku sendiri, dibagian antah berantah kulit ari. Suatu ketika aku bertemu dengan diriku sendiri diatas sungai yang panjang sekali. Sungai itu bernama sungan ogan. Sungai ogan itu adalah sungai yang sangat besar sekali. Kulit ariku mengajak aku utnuk berenang di sungai tersebut, jelas aku tak mau. Aku tidak bisa berenang, aku tdak bisa mengayun-ayunkan tanganku untuk bisa mengambang. Tetapi sama sekali aku tidak mengerti kulit ariku tinggal dimana dan mendiami dunia yang mana.

Sebenarnya Aku masih bingung, sesekali Aku bertemu dengan perempuan yang cantik, lekukkan tubuh yang bisa membuat Aku bisa berdiri berkali-kali. Libidoku semakin meninggi rupanya. Aku sudah berhenti, berhenti dari keangkaramurkaan diriku terhadap tubuhku yang dibilang mukjizat, namun bisa saja se’enaknya dibilang oleh orang-orangan mereka. Mulut mereka dan sosok kita perlu berjaga-jaga di pintu percaloan surga sepertinya.

Kulit ariku yang disimpan oleh ibuku baik-baik. kini kulitnya tersimpan dengan baik, namun makhluk halusnya selalu mengikuti. Rupanya seperti diriku. Rupanya lebih mirip dari kembaranku yang pertama, kedua, dan seterusnya. Emakku bilang begitu, harus ada doa biar saudara ariku tidak mengganggu. Kulit ariku selalu menemaniku. Sang Gusti pasti melihatku lebih dari ini. sebenarnya manusia itu tercipta dua, satu di dunia yang kasar dan satu di dunia yang halus. Itu sepemahanku yang baru. Emakku sempat bilang, rukun-rukunlah terhadap dirimu yang satu lagi. Dibagian mana diriku satu lagi, kulit ariku atau sifatku yang tersimpan secara apik. Semestinya selalu saja berdoa.

Aku sebenarnya tidak mau berceloteh banyak, namun mereka memintaku untuk berceloteh banyak. Aku tidak pernah tahu bahwa bumi ini bisa bersedih. Menjerit saat kita langkahkan kaki pertama kita sampai berkali-kali. Sepertinya dengan beberapa kali langkah kita membuat semuanya menjadi lebih kasar. Hingga menciptakan banyak simponi jeritan bumi, entahlah. Aku belum sempat mendengar bumi menangis, namun bumi yang marah Aku sempat mendengar dan melihat. Tsunami di aceh, letusan gunung merapi, dan gempa bumi di Yogyakarta. Tersenyum saja tidak apalagi tertawa. Bumi ini sebenarnya mau minta apa sama kita. Aku dan kita sebenarnya meminta apa sama bumi, sepertinya kita sudah sangat terpenuhi oleh kebaikkan bumi. Tetapi kenapa mereka menjerit saat kita melangkahkan kaki untuk menyentuhnya. Aku semakin tidak berani.

Aku berbicara mengenai politik. Dipikiranku hanya satu mengenai politik, yaitu bahwa politik itu baik, sangat baik. penyebab kesalahannya berada di posisi segumpal daging yang begitu banyak lemaknya, sehingga orang-orang yang berjalan di jalan politik salah memilih jalan. Mereka tidak menggunakan intuisi hati sepertinya.

Aku dan keakuanku yang lainnya. Sombong saja sepertinya saat aku berkata “ aku membuatkan makanan untuk saudaraku yang sedang sakit, akhirnya Dia sembuh”. Sepertinya tehnik keakuanku masih memikirkan pengakuan diri yang berlebihan. Pernah Aku bertemu dengan doraemon, makhluk berwarna biru. Makhluk itu selalu datang disetiap pagiku, menghasutiku perlahan-lahan hingga aku menjadi manusia penghayal yang malas membuat. Aku selalu meminta-minta untuk apa saja yang aku inginkan. Hasutan makhluk itu berhasil rupanya. Aku jadi manusia yang malas menghasilkan dengan usaha, namun menjadi manusia yang selalu meminta hasil dari segala upaya dan usaha. Barang jadi yang aku mau. Aku menjadi masyarakat konsumsi tingkat pertama. Manusia yang disebabkan jalur imajiner yang bercabang, namun banyak kebuntuan. Hal yang membuat suatu kelayakkan dengan berimajinasi bukan, imajinasilah tanpa selalu meminta barang jadi.

Aku tidak mau menjadi Aku yang lupa dengan diri sendiri ini. biarlah apapun yang Aku perbuat tidak akan aku beberkan kebaikkanku lewat kata-kata, biarlah mulut orang yang berkata. Aku dengan kebaikkanku sepertinya cukup dengan tindakkan-tindakkan yang masih terlihat samar bagiku. menolonglah tanpa diminta, sepertinya lebih bijaksana daripada mengobralkan diri untuk membantu.

Aku tidak selalu bisa melihat kulit ariku. Sepertinya aku tidak akan bisa melihat kulit ariku. Kulit ariku sekarang serupa seperti Aku. Orang bisa melihat kulit ariku, tapi itu nanti di saat Aku telah berada dalam keridhoan bumi yang di ridhoi Gusti terlebih dahulu. Satu hal yang Aku tidak sadar, apakah aku selalu berdoa saat mengeluarkan langkah kakiku pertama kali. waktuku tidak memberitahu mengenai perihal itu. tentang jeritan bumi atas injakkan kakiku, kita dan mereka. Belajarlah perhatian terhadap dirimu sendiri dan alam ini, mungkin mereka bisa berbisik disaat tidurmu.

Selamat tinggal aku yang bisa saja. selamat tinggal kita, pergilah berbelanja cabe merah pagi ini. selamat tinggal mereka yang sedang berkerumunan menyatukan mulut untuk meraih kedudukkan politik itu tadi. Selamat tinggal kaminya orang-orang suku, kalian memang sahabat alam. Masih saja bumi menjerit walaupun kalian begitu bersahabat, itu yang ada di paradigmaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar