Minggu, 24 Februari 2013

AKU DENGAN KESADARAN UANG




Tidak ada kata terkadang untuk bisa mengerti, bahwa kertas yang bernilai itu sangat penting. Kertas yang bernilai tersebut bisa melihat suatu hal yang berharga dengan hanya membayar harga satu ribu rupiah saja.

Apa ini. Apa yang membuat hal itu berharga, semua orang pasti tahu dengan kesadaran masing-masing untuk menyebutkan hal yang berharga. Uang bisa saja bisa menjatuhkan harga yang lebih tinggi dari keutuhan nilai tersebut.  hal tersebut tergantung dengan keadaan mereka yang punya uang ataupun tidak sama sekali, yang terpenting uang menjadi dominan terhadap harga. Harga diri bisa, harga sembako bisa, dan harga jiwa juga sangat bisa.

Aku dengan uang itu sendiri, terkadang mereka selalu mengebiriku. Mengebiri disaat aku masih terlelap dengan segala aktifitas keterbutuhanku. Uang juga menjadikanku seperti kambing hitam, itu masih saja seperti kita di pojokkan oleh uang. Aku dengan keakuan sendiri saja masih bisa bertingkah bodoh terhadap kenyataan uang yang berlembar-lembar adanya, namun aku belum bisa melihat hal berharga yang bisa di lihat oleh kepentingan uang.

Membohongi keadaan. Uang selalu melambaikan tangannya kepadaku. Disaat aku sakit, Dia melambaikan tangan dengan se’enaknya saja. Waktu beberapa hari yang lalu aku membutuhkan mereka, tetapi malah mereka mengaburkan diri untuk berlibur ke bank-bank yang masih samar olehku. Entahlah. Uang itu masih saja menertawakanku, di waktu yang lain Dia merengek-rengek membujukku untuk keluar dari tahanan. Apa saja yang berhubungan dengan kertas yang bermaklhuk pangeran di dalamnya, terkadang aku menyembahmu sebagai pahlawanku sedangkan disaat yang lain kau kujadikan hidanganku terhadap kesombonganku. Waktu tidak pernah mengerti akan kegunaanmu. Waktu juga tidak merelakan untuk menumpukmu di gudang tua dekat rumah tetanggaku. Uang berdiam dirilah sejenak dan bersembunyilah di tempat yang tidak diketahu oleh kita dan orang banyak. Aku rindu dengan dunia tukar menukar barang walaupun aku belum pernah mengalaminya.

Uang menidurkanku, disaat mereka-mereka terbangun untuk meminta segenap kumpulan receh yang begitu berharga. Disaat aku benar-benar tertidur ada banyak orang yang terbangun untuk mencari kertas yang berharga ini. aku pikir kata berharga bergeser lebih banyak ke mahluk yang bernama uang ini. kembali ke adegan disaat aku tidur, mereka melakukan apa saja untuk mendapatkan uang. Apa saja. Dengan acara yang layak dan tidak layak, tapi itu perjuangan mereka. Perjuangan yang benarkan dan tidak dibenarkan. Uang benar-benar bisa menipu siapa saja, terkecuali orang yang akan sadar bahwa uang itu tidak berarti apa-apa. Ada hal yang lebih berharga dari pada uang, namun perlu makan untuk menghargai yang lain sedangkan makan dapat dari uang. Pikiran pendek dan panjang bisa menyimpulkan seperti ini. uang berkabut disaat berpikiran pendek.

Uang. Terhadap perihal apa mengenai uang. Tentunya ruh tidak dibeli oleh uang. Lewat kesadaranku ini, sebenarnya aku sudah bosan dengan keadaanku terhadap keberadaan uang. Uang selalu membuat aku selalu meminta dan mengkonsumsi. Uang selalu membuat aku merasa kecil dan seperti anak kecil. Aku sudah jenuh dengan meminta-minta. Sudah cukup aku meminta, itu dari kesadaranku yang lain. kesadaranku yang suka mengumbar lebih-lebih mengajak bercanda keberadaan uang tersebut. aku lelah dengan keberadaan mereka. Aku tidak mau meminta-minta lagi. Pada saat ini aku mau lelah dikejar-kejar uang tanpa aku pinta untuk mereka datang. Aku mau menjadikan uang hal yang keseribu dalam kamus berhaga pada diriku mengenai nilai dalam hidup ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar